Minggu, 26 Februari 2012


Siap berubah


Esensi dari dakwah adalah bahwa sesungguhnya dakwah merupakan suatu aktivitas dan upaya untuk mengadakan perubahan terhadap individu  maupun kelompok menjadi lebih baik. Dakwah sendiri memiliki tiga karakteristik dasar yaitu : 1) Thulut Thariq (panjang jalannya) ; 2) Katsirul ‘aqabat (banyak timpaannya) ; 3) Qilatru rijal (sedikit orangnya).

Telaah siapa “kita”?

Dari pada capek mikirin siapa yang pantas menjadi penguasa atau pemimpin, terus gontok-gontokkan antar sesama kita, lebih baik memanfaatkan potensi yang kita miliki guna menghadapi pertarungan yang lebih mengglobal. Kader militan yang siap dan cerdas, jamaah yang kuat dan solid, pemanfaatan seluruh potensi, manajemen kerja yang cerdas dan profesional adalah segenap bahan baku bagi kemenangan dakwah kampus dimasa depan.

Siap berubah..

Perubahan menjadikan kehidupan mengabadi dan menyejarah. Perubahanlah yang menyebabkan kehidupan ini tetap remaja dan awet muda. Sebab perubahan selalu mendewasakan. Perubahan selalu memberikan jalan. Perubahan tidak pernah bosan memberikan jawaban atas segala masalah yang ada dalam kehidupan ini. Seperti aliran sungai yang mengalir, perubahan itu mengalir dengan begitu santun dari hulu yang lebih tinggi. Kadang mengalir dengan tegas dan kuat, kadang lembut dan tenang. Begitu tegar, begitu kokoh. Semangat sang aliran selalu mencerahkan kondisi dan situasi yang dihadapinya. Bentuk fisik(warna, bau, rasa) senantiasa menunjukkan kepribadian sang aliran. Namun, dimuaranya di ujung jalan, sang aliran akan menemukan jalan ke laut lepas. Jalan keabadian dari pilihan perubahan. Ketika mengarungi aliran sungai, maka kita akan menemukan dinamika kehidupan yang ebraneka ragam. Dari sanalah kehidupan itu berkembang. Dari situlah kehidupan itu berjalan dari “Dinamika Perubahan.”

Begitulah cara Allah SWT menjalankan kehidupan ini. Mengadakan perubahan. Perubahan yang akan menjadikan kehidupan semakin baik dari waktu ke waktu. Membuat sebuah jalan agar umat manusia menemukan kebaikan dan kesempurnaan. Perubahan selalu membawa kepada kebaikan. Dan di ujung perubahan selalu mincul penyempurnaan. Menjadi lebih baik.

Selalu berusaha menjadi yang terbaik sang melankolis yang perfeksionist...

Sejarah merupakan kisah pembaharuan atau perubahan. Perubahan merupakan jalan penuntas mimpi. Setiap pelaku sejarah yang tersejarahkan adalah juga pelaku perubahan “agent of change.” Sang penuntas mimpi adalah ‘sejarah yang tersejarahkan’. Sebetulnya keabadian sejarah kehidupan, ataupun momentum kesejarahan (petikan kisah) hakikatnya adalah keabadian jiwa-jiwa. Jiwa-jiwa yang bermain dalam lakon sejarah itu. Jiwa – jiwa yang berpentas dalam momentum kesejarahan itu. Mereka itulah sebetulnya sejarah yang sebenarnya. Tanpa mereka, sejarah tidak akan menjadi sejarah.

Sang penuntas mimpi adalah orang-orang istimewa. Mereka tidak sama dengan kebanyakan orang. Ada yang membuatnya berbeda. Membuatnya lain dari yang lain. Kadang jika kita melihat manusia lain tertidur lelap dalam kegelapan malam, kita temukan mereka terbangun karena pikirannya yang kalut memikirkan nasib umat, nasibnya dan pertanggungjwabannya kelak di hadapan Sang Kuasa. Kadang kita akan menemukan mereka dalam keheningan ditengah hiruk pikuk kehidupan yang melenakan. Atau sebaliknya menemukan mereka dalam keramaian, megajarkan kebaikan di tengah keheningan dan kebekuan. Maka, kita akan menemukan model – model kehidupan seperti Umar bin Khattab r.a., yang setiap malam meronda guna mengecek kondisi masyarakatnya. Atau kehidupan seperti Abdullah bin Abbas r.a yang menghabiskan siang dan malamnya dalam tarbiyah dan dakwah. Atau pilihan Abu Dzar Al Ghifari r.a yang menyendiri guna mempertahankan idealismenya.

Begituah sang penuntas mimpi hidup dalam optimisme dan keyakinannya. Disaat orang lain berpikir pesimis dan beranggapan tidak mungkin.. Para penuntas mimpi tidak pernah kehilangan keyakinan bahwa akan selalu ada jalan dibalik kebuntuan. Maka selalu mampu menembus dimensi ketidakmungkinan untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan yang banyak. Inilah mungkin yang menyebabkan para penuntas mimpi selalu saja menjadi rujukan menuju keberhasilan, sebab di dalam diri mereka kita akan selalumenemukan potensi-potensi menjajikan untuk memenangkan kehidupan. Jika orang lain membutuhkan satu jaln kemenangan, mereka tidak pernah memperhatikan seperti apa jalan kemenangan itu, sebab mereka memiliki ribuan jalan kemenangan.
“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’du : 11)

Ayat ini dapat disimpulkan bahwa sebuah perubahan pembaruan(perubahan) tidak akan pernah tercapai manakala kita belum berhasil melakukan perbaikan pada internal diri.
Dalam proyek pembaruan internal diri dibutuhkan 4 bentuk kekuatan jiwa yang pernah disamapikan Imam Syahid bahwa,”umat atau kelompok yang ingin membina diri, mewujudkan cita dan membela prinsip – prinsip yang diyakininya membutuhkan kekuatan jiwa yang terekspresikan dalam beberapa hal, yaitu :
1. Tekad yang membaja yang tidak akan pernah melemah
2. Kesetiaan yang teguh, yang tidak disusupi oleh kemunafikan dan pengkhianatan
3. Pengorbanan besar yang tidak terhalangi oleh ketamakan dan kebakhilan
4. Mengenali, mengimani, dan menghargai prinsipyang dapat meghargai prinsip yang dapat menghindarkan diri dari kesalahan, penyimpangan, sikap tawar-menawar dalam masalah prinsipil, dan tertipu dengan prinsip lain.”

Jumat, 03 Februari 2012

Sudahkah kau dekat dengan Al-Qur’an???

Wahai jiwaku,tidakkah kamu malu kepada Allah SWT? Dengan nikmat-Nya yang sedemikian banyak,yang diminta maupun tidak, tidaklah kamu bersyukur kepada-Nya? Mendekatkan diri pada - Nya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an?
Wahai jiwaku, sadarkah kamu ketika Allah SWT dan Rasul-Nya mengajak dirimu memperbanyak hidup bersama Al-Qur’an? Untuk siapakah manfaat amal tersebut? Apakah kamu mengira bahwa dengan banyak membaca Al-Qur’an maka kemuliaan Allah dan Rasul-Nya menjadi bertambah? Dan sebaliknya, jika kamu tidak mebaca Al-Qur’an kemuliaan itu berkurang? Sekali-kali tidak..Semua yang kita baca da kita lakukan, kitalah yang paling banyak mendapatkan manfaatnya.
Wahai jiwa tidakkah kamu mersasa khawatir dengan dirimu? Selama inin hidup tanpa Al-Qur’an, jatah usia makin sedikit, jaminan masuk surga tidak ada di tangan. Sampai saat ini belum mampu tilawah rutin 1 juz per hari, Jangan-jangan Al-Qur’anlah yang tidak mau bersama dirimu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al-Qur’an selalu menjauh dari dirimu.
Wahai jiwa, tidakkah engkau tergiur untu mengikuti kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat serta tabiin yang menjadi kenangan sejarah sepanjang zaman dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an? Jika hari ini kamu masih enggan berinteraksi dengan Al-Qur’an, apa yang akan dikenal oleh generasi yang akan datang tentang dirimu?
Ungkapan diatas adalah untuk perenungan terhadap diri sendiri dalam urusan dunia dan akhirat, agar hidup kita tidak berlalu begitu saja tanpa makna,,,

Kamis, 19 Januari 2012

Kenapa Harus Menjadi Murabbi??

Bismillah
Mungkin akan terlintas dibenak kita, mengapa haru menjadi Murabbi/ah?
Mungkin hal - hal dibawah ini bisa sedikit membuat kita merasa PD untuk menjadi Murabbi/ah...
lets chekidot..
1. untuk memotivasi internal diri..Kenapa? karena jika kita sudah menjadi murabbi/ah, kita akan menjadi contoh untuk mentee - mentee kita sehingga kita akan termotivasi untuk menjadi lebih baik..Masa kita ngajarin orang tapi kita sendiri ga ngelaksanain...
2. Untuk meng up grade kafaah...Pastinya sebelum ngisi kita harus punya materi atau setidaknya bahan yang akan kita sampaikan atau diskusikan,oleh karena itu, pastinya kita akan searching dulu sebeleum ngisi... Jadi nambah ilmu dan wawasan kita juga kan...
3. Wujud pada komitmen jama'ah
4. Amal Jariyah,,Masih inget kan 3 perkara yang amalnya tiada terputus??
Yupzz,,Doa anak yang sholeh, amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat...Dengan kita mengisi mentoring atau halaqoh, insyaAllah ilmu kita yang bermanfaat akan tersampaikan terus..Selain itu kita juga dapat beramal jariah dengannya..
5. Hidayah yang LUAR BIASA.. Hidayah itu hanyalah milik ALLAH SWT, maka itu besyukurlah wahai antu/na yang mendapatkan hidayah untuk dapat menjadi seorang murabbi... Hidayah itu tak gratis, butuh usaha yang luar biasa untuk mendapatkannya dimana doa dan usaha saling menguatkan satu sama lain.
6. Organisir kekuatan umat. Dengan menjadi murabbi, antum akan lebih mudah mengajak binaan antum untuk mengajak kepada suatu kebenaran. Ketika ada suatu  instruksi kebaikan, maka akan lebih mudah mengajak lewat kelompok mentoring atau halaqoh, karena pendekatan personal lebih berasa, lebih kuat..
7. Taqwin (pembentukan) dengan menjadi murabbi, antum akan dapa tmewujudkan misi antu/na untuk mencetak para qiyadah dakwah, qiyadah ummah, dan qiyadah daulah..

# Dimensi mentoring:
a. membentuk karakter Islami (misalkan dengan materi ms'rifatullah, dll)
b. Kemampuan berorgansisasi
c. Akademik

# Output kader tarbiyah
1. Saksiyah Islamiyah ( Pribadi yang Islami)
2. Saksiyah Daiyah (Kepribadian dai )
3. Murabbi Muntijah (murabbi sukses)

Wallahualam bissowwab

Jumat, 13 Januari 2012

Uswatun Hasanah

بسم الله رحمن رحیم

ا سوة حسنه

_USWATUN HASANAH_
....SURI TELADAN YANG BAIK....


Nama merupakan sebuah doa dari sang pemberi nama (orang tua),,,
Semoga diri ini dapat menjadi apa yang sang pemberi nama dambakan..
Amiinn..

"Sesungguhnya keteladanan yang baik itu merupakan dakwah amaliyah
dan bukan dakwah lisan saja..
keteladanan berarti dakwah dengan perilaku (bil hal)
sebelum dakwah dengan perkataan (bil maqal)..."

Betapapun tingginya prinsip dan arahan, tetapi jika tanpa ada bukti pelaksanaannya, maka tidak akan pnya pengaruh
dan tidak membawa manfaat bagi pemiliknya...
Adanya seakan tak ada...

Kamis, 08 September 2011

FIQIH DAKWAH : BAB 4


KAIDAH DARI USHUL FIQIH DAN BIMBINGAN UNTUK DA’I

KAIDAH KE – 1

MEMBERI KETELADANAN SEBELUM BERDAKWAH

Perilaku dan amal para da’i adalah cerminan dari dakwahnya. Meeka adalah teladan dalam pembicaraan dan amalan. Karena itu mereka memperbaiki apa – apa yang rusak dan meluruskan yang bengkok. Mereka tidak pernah bersembunyi dari manusia dan tidak merasa takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah. Tidak keluar dari mereka KECUALI KEBAIKAN. SLOGAN mereka adalah “Ashlih nafsaka wad’u ghairaka” ( perbaiki dirimu, kemudian ajaklah orang lain ) dan “Aqim daulatal islami fi qlbika, taqum fi ardhika” ( tegakkan daulah Islam di hatimu, niscaya ia akan tegak di bumimu ). Karenanya pribadi seorang da’i mempunyai pengaruh besar bagi keberhasilan dakwah dan penyebaran risalah.

Nabi adalah teladan yang paling mulia, ideal dan sempurna bagi manusia sepanjang sejarah. Beliau adalah seorang murabbi ( pembina ) yang menutun manusia dengan perilaku pribadinya sebelum ucapannya. Ahlaknya adalah Al – Qur’an. Rasululah adalah seorang ‘abid ( ahli ibadah ) di waktu malam dan ahli politik yang telah berhasil menyatukan umat manusia dan menghindarkan mereka dari kehancuran. Beliau juga ahli peperangan, baik dalam prenanaan strategi maupun ketika memimpin  pasukannya di lapangan. Beliau menjenguk mereka ketika sakit dan membimbing mereka menuju hidayah dengan penuh kasih sayang. Itu pula yang membuat para sahabat rela mengorbankan segala sesuatu demi membela Rasulullah. Semua itu tergambar baik dalam Al – Qur’an maupun melalui hadits – haditsnya. Dan prinsip menampilkan KETELADANAN sebelum MENYERU ini masih tetap berlaku selama langit dan bumi masih ada...
Keteladanan merupakan sarana dakwah dan pendidikan yang paling efektif, sehingga Islam menetapkan sistem pendidikan yang kontiunu atas dasar prinsip keteladanan tersebut.

“ Sesungguhnya orang – orang yang memecah belah agamanya dan mereka ( terpecah ) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. “ ( QS. Al – An’am : 159 ). 
Imam syahid Hasan Al – Banna berkata, “ Sesungguhnya tukang bicara itu berbeda dengan ahli amal dan ahli amal berbeda dengan ahli jihad yang produktif dan bijaksana. Dia memperoleh keuntungan yang gemilang dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya ( jadi inget prinsip ekonomi...). 
Sesungguhnya kebanyakan orang BISA BERBICARA, tetapi sedikit sekali di antara mereka yang mampu bertahan ketika harus BERAMAL. Dari sedikit yang bisa bertahan dari beramal itu, sedikit saja yang mampu memikul beban jihad yang berat di atsa jalan yang terjal ini. Mereka, para mujahid itu adalah orang – orang TERPILIH  yang SEDIKIT JUMLAHNYA. Oleh karena itu, para pendkung dakwah bisa saja tersesat jalan dan tidak sampai pada sasaran yang dituju, kalau dia tidak menyandarkan diri pada pertolongan ALLAH.
Dalam kisah THALUT ada penjelasan terhadap apa yang harus SAYA katakan. Maka persiapkanlah dirimu dan didiklah dengan pendidikan yang benar serta ikhtiar yang mendalam. Ujilah dirimu dengan amalan yang kuat yang seringkali tidak menyenangkan dan sangat berat. Sapilah dirimu dari keinginan – keinginan dan kebiasaan – kebiasaan hidup yang melenakan .“

Rabu, 25 Mei 2011

fiqih da'wah jum'ah amin


FIQH DAKWAH JUM'AH AMIN ABDUL AZIZ

Definisi Dakwah
Apabila kita katakana”dakwah islamiah”, maka yang kita maksudkan adalah “risalah yang terkahir yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, sebagai wahyu dari Allah dalam bentuk kitab yang tidak ada kebatilan didalamnya, baik di depan atau belakangnya, dengan kalamNya yang bernilai mukjizat, dan yang ditulis didalam mushaf yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad, dengan sanad yang mutawatir, yang membacanya bernilai Ibadah.
Definisi dakwah : tinjauan bahasa dan istilah :
1. An-nida artinya memanggil
2. ad-du’a ila syar’I artinya menyeru
3. ad-da’wat ila qadhiyat artinya menegaskan atau membelanya, baik terhadap yang hak maupun yang bathil.
Dakwah yang kita maksudkan
Dakwah yang kita inginkan dan yang wajib bagi kaum muslimin untuk melaksanakannya adalah dakwah yang bertujuan untuk beorientasi pada :
1. membangun masyarakat islam, sebagaimana para rasul Allah, yang memulai dakwahnya dikalangan masyarakat jahiliyah.Mereka mengajak manusia untuk memeluk agama Allah, menyampaikan wahyu-Nya kepada kaumnya, dan memperingatkan mereka dari syirik.
2. Dakwah dengan melakukan perbaikan pada masyarakat islam yang terkena musibah. Seperti penyimpangan dan berbagai kemungkaran, serta pengabaian masyarakat tersebut terhadap segala kewajiban.
3. Memelihara kelangsungan dakwah dikalangan masyarakat yang telah berpegang pada kebenaran, melalui pengajaran secara terus-menurus, pengingatan, penyucian jiwa dan pendidikan.
KEWAJIBAN YANG SYAR’I
Dakwah merupakan kewajiban syar’I, berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut :
Firman Allah SWT,
Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh pada yang makhruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah adalah orang-orang yang beruntung. (Ali imran : 104)
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.(Al-Baqarah :159-60)
Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.( al-Maidah :63)
KEUTAMAAN DAKWAH
Melalui dakwah yang dilakukan oleh para ulama dan para aktivis untuk memperjuangkan agama ini, maka dengan ijin Allah, umat akan berhasil mencapai kejayaan, keagungan, dan kepemimpinan.Hal itu hanya bisa didapatkan dengan keikhlasan, kekuatan, keteladanan dan kecerdasan mereka.Dengan semua itu, Allah mengangkat panji kebenaran dan mewujudkan kebaikan, sehingga umat ini menjadi umat terbaik, yang senantiasa memerintahkan kebajikan, mencegah kemungkaran dan yang beriman kepada Allah.
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (fushilat :33)
KEUTAMAAN DAKWAH
Melalui dakwah yang dilakukan oleh para ulama dan para aktivis untuk memperjuangkan agama ini, maka dengan ijin Allah, umat akan berhasil mencapai kejayaan, keagungan, dan kepemimpinan.Hal itu hanya bisa didapatkan dengan keikhlasan, kekuatan, keteladanan dan kecerdasan mereka.Dengan semua itu, Allah mengangkat panji kebenaran dan mewujudkan kebaikan, sehingga umat ini menjadi umat terbaik, yang senantiasa memerintahkan kebajikan, mencegah kemungkaran dan yang beriman kepada Allah.
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (fushilat :33)
KARAKTER DAKWAH KITA
Dakwah islam memiliki beberapa karakter yang membedakannya dari dakwah-dakwah yang lain, yaitu :
Rabaniyah, artinya bersumber dari wahyu Allah
Wasathiyah, artinya tengah-tengah atau tawazun
Ijabiyah, artinya positif dalam memandang ala, manusia, dan kehidupan
Waqi’iyah, artinya realistis dalam memperlakuan individu dan masyarakat
Akhlaqiyah, Artinya sarat dengan nilai kebenaran, baik dalam sarana maupun tujuannya
Syumuliyah, artinya utuh dan menyeluruh dalam manhajnya
‘Alamiyah, bersifat mendunia
Syuriyah, berpijak diatas prinsip musyawarah dalam menentukan segala sesuatunya
Jihadiyah, artinya terus menerangi siapa saja yang beranimenghalang-halangi islam, dan mencegahtersebarnyadakwah
Salafiyah, artinya menjaga orisinalitas dalam pemahaman dan akidah.
Inilah dakwah dengan berbagai karakternya yang membedakan dirinya dari dakwah-dakwahlainnya.
Dengan demikian, seorang dai harus mengetahui dan memahami metodologi dakwah, agar umat merasa puas dan yakin dengan dakwah kita seperti :
1. Penyampaian yang baik
2. Keindahan uslub
3. Targhib (member rangsangan) dalam kebenaran
4. Mempergunakan kebijaksanaan dan nasihat yang baik
5. bantahan dengan cara yang lebih baik
6. mempertinbangkan situasi dan kondisi
7. penggunaan sarana publikasi dan informasi yang paling modern
Oleh sebab itu, adalah sebuah keharusan bagi seorang dai untuk mengetahui apa yang ia katakan dan bersikap bijaksana terhadap apa yang ia dakwahkan.
Imam Al-‘aini berkata, “hikmah adalah ilmu yang mendalam dan meyakinkan.Mngajarnya adalah kesempurnaan ilmu dan memutuskan suatu permasalahan dengannya adalah kesempurnaan amal”.MENGIKUT BUKAN MEMBUAT YANG BARU
Dalam berdakwah, kita selalu meneladani Rasulullah, sebagai pembawa rahmat dan hidayah. Kita ingin mengekuarkan manusia dari berbagai kegelapan menuju cahaya iman atas ijin Rabbnya, dari kekufuran menuju keimanan, dari kesesatan menuju petunjuk, dari kebathilan yang gelap gulita menuju kebenaran yang terang benderang, dari maksiat menuju taat, dan jalan hidup yang berbeda-beda menuju jalan Allah yang satu dan lurus.
FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN DAKWAH
inilah dakwah kita dengan nilai-nilainya yang luhur dan pemahamannya yang asli serta risalahnya yang abadi. Ia membutuhkan seorang dai yang sanggup memukul dengan penuh amanah berbagai masalah yang harus direalisir, agar dakwah ini sukses dan manusia pu n mau menerimanya, serta sampai pada tujuannya yang mulia. Diantara factor-faktor pendukung keberhasilan dakwah adalah sebagai berikut :
1. Pemahaman yang mendalam
2. Keimanan yang kuat
3. Kecintaan yang kukuh
4. kesadaran yang sempurna
5. kerja yang kotinu
Dalam rangka mencapai tujuan yang mulia itu, seorang muslim harus bersedia menjual diri dan hartanya kepada Allah, sampai dia tidak memiliki apa-apa.Dia menjadikan dunia hanya untuk dakwahnya, demi untuk keberhasilan akhirat.
SARANA DAKWAH DAN REALISASI TARGET
Dengan pemahaman yang benar terhadap dakwah, kita berupaya melaksanakan pemahaman ini agar terjelma dalam kehidupan yang nyata, dan prinsip-prinsip yang dilaksanakan dapat direalisasikan dan dirasakan pengaruhnyaoleh manusia.hal ini dilakukan melalui upaya untuk merealisasikan target-target berikut ini :
Ishlah An-nafs (perbaikan jiwa), sehingga menjadi muslim yang kuat fisiknya,bersih akidahnya, benar ibadahnya, selalu berjihad melawan hawa nafsunya, memperhatikan waktunya, teratur kehidupannya, dan bermanfaat untuk orang lain. Dengan demikian, anggota masyarakat akan terkondisikan untuk senantiasa berhubungan dengan Allah dan bermakrifat padaNya, sehingga terciptalah makna ubudiyah kepada Allah.
Membina rumah tangga islami dapat membawa keluarganya menghormati fikrohnya, memelihara adab islam dalam kehidupannya, memilih istri dengan baik, memenuhi hak dan kewajiban masing-masing, mendidik anak dan pembantunya untuk memahami prinsip-prinsip islam, agar keluarga tersebut menjadi miniature teladan bagi masyarakatyang kita cita-citakan.
Irsyad al mujtama’ ( member pengarahan kepada masyarakat)
Berdakwah kepada pemerintah untuk menerapkan syariat Allah dengan segala metode yang bijaksana dan akhlak yang islami.Ia menjadi tuntutan rakyat banyak yang diprakarsai oleh kelompok dan golongan, sehingga terwujudlah pemerintahan yang melaksanakan islam secara benar.Dengan demikian, dia melaksanakan tugasnya selaku pelayan umat, diberi upah oleh umat dan bekerja untuk kemaslahatan mereka dan yakin dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban islam serta tidak berbangga diri dengan kemaksiatan.
Berdakwah untuk mewujudkan persatuan islam, dimulai dengan mengadakan kerjasama dengan Negara-negara islam dan mengadakan konsolidasi antara mereka untik mendakwahi rakyat dan pemerintahannya guna menerapkan islam dan memendang islam sebagai dakwah global.Hal itu dilaksanakan dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik, sehingga kita bisa mengembalikan khilafah yang hilang dan persatuan yang dicita-citakan. BUIH HARI INI DAN TOKOH MASA LALU
Rasulullah telah menjelaskan tentang cirri-ciri bermental buih yang berlindung dalam naungan islam dewasa ini. Yaitu pribadi yang cinta dunia dan takut mati, pribadi yang mencintai dunia dan sangat terikat dengannya, serta tertipu dengan keindahannya. Sehingga berkubang untuk mencintai syahwat berupa wanita, anak-anak, harta yang melimpah ruah dari emas dan perak, kendaraan mewah, binatang ternak dan sawah ladang. Pribadi semacam ini tidak suka terhadap kematian, karena ia ingin memakmurkan dunianya dan menghancurkan akhiratnya. ia benci jika berpindah dari kemakmuran menuju kehancuran yang senantiasa menunggu dirinya.
PILAR-PILAR DAKWAH KAMI
Orang-orang sekuler telah menertawakan kita ketika mereka mempunyai anggapan bahwa pilar-pilar kedaulatan kita ini tergambar dalam slogan “ Satu tanah air, Satu nusa, Satu bangsa,dan satu kepentingan yang sama”.
Pernah datang suatu masa ketika seorang muslim berjalan dari Andalusia ke afrika utara, mesir, syam, dan irak, bahkan kenegara jauh seperti cina dan india, tanpa ada perasaan takut dan terasing.Dimana saja ia berada pasti ada yang menyebut asma Allah.
SIFAT-SIFAT DA’I
Sifat da’I yaitu ia dapat mendakwahi keluarga dekatnya, dapat pula menasehati orang-orang yang dikenal dari umat islam. Ia menjadikan Rasulullah sebagai suri teladan, bijaksanadalam dakwahnya, ihsan dalam menasehatinya, dan bermujahadah dengan cara yang lebih baik, maka dakwah bil haq itu lebih baik dan berpengaruh daripada dakwah bil maqal.
Wahai Da’I, bersikaplah lemah lembut kepada semua orang
Sesungguhnya termasuk keburukan seorang da’I terhadap dirinya sendiri adalah apabila ia memberatkan manusia, seakan dia melihat mereka dengan pengelihatan yang hina, atau dengan pandangan yang sombong, dan merasa paling tinggi.
Sifat santunnya mendahului ketidaktahuannya
Sesungguhnya sifat penyantunnya itu merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda kerasulan Rasulullah..sifat penyantunnya mendahului ketidaktahuannya, dan ketidaktahuannya yang sangat itu tidak menambahinya kecuali semakin bersikap penyantunnya.
SIKAP DAI TERHADAP MASYARAKAT
Seorang dai tidak boleh larut mengikuti langkah mereka,tidak juga larut dalam tradisi dan kebiasaan mereka yang bertentangan dengan syariat islam, kaidah-kaidah,hokum-hukum, dan adab-adabnya.Para dai tidak boleh terhina oleh kemauan mereka, hanya karena ingin menarik mereka kedalam dakwah.terkadang hanya karena tujuan itu saja seorang dai tidak hanya mengubah sebagian norma dan tradisi islam saja, bahkan sampai mengubah prinsip akidah bahkan system islam.
SYARAT-SYARAT UNTUK MELAWAN KEMUNGKARAN
1. Pastikan yang kita hadapi adalah benar-benar kemungkaran
2. Hendaknya kemungkaran yang tampak bukan suatu kesalahan yang dicari-cari
3. Hendaknya kemungkaran itu diketahui tanpa ijtihad
Allahu’alam bis shawab