Kamis, 08 September 2011

FIQIH DAKWAH : BAB 4


KAIDAH DARI USHUL FIQIH DAN BIMBINGAN UNTUK DA’I

KAIDAH KE – 1

MEMBERI KETELADANAN SEBELUM BERDAKWAH

Perilaku dan amal para da’i adalah cerminan dari dakwahnya. Meeka adalah teladan dalam pembicaraan dan amalan. Karena itu mereka memperbaiki apa – apa yang rusak dan meluruskan yang bengkok. Mereka tidak pernah bersembunyi dari manusia dan tidak merasa takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah. Tidak keluar dari mereka KECUALI KEBAIKAN. SLOGAN mereka adalah “Ashlih nafsaka wad’u ghairaka” ( perbaiki dirimu, kemudian ajaklah orang lain ) dan “Aqim daulatal islami fi qlbika, taqum fi ardhika” ( tegakkan daulah Islam di hatimu, niscaya ia akan tegak di bumimu ). Karenanya pribadi seorang da’i mempunyai pengaruh besar bagi keberhasilan dakwah dan penyebaran risalah.

Nabi adalah teladan yang paling mulia, ideal dan sempurna bagi manusia sepanjang sejarah. Beliau adalah seorang murabbi ( pembina ) yang menutun manusia dengan perilaku pribadinya sebelum ucapannya. Ahlaknya adalah Al – Qur’an. Rasululah adalah seorang ‘abid ( ahli ibadah ) di waktu malam dan ahli politik yang telah berhasil menyatukan umat manusia dan menghindarkan mereka dari kehancuran. Beliau juga ahli peperangan, baik dalam prenanaan strategi maupun ketika memimpin  pasukannya di lapangan. Beliau menjenguk mereka ketika sakit dan membimbing mereka menuju hidayah dengan penuh kasih sayang. Itu pula yang membuat para sahabat rela mengorbankan segala sesuatu demi membela Rasulullah. Semua itu tergambar baik dalam Al – Qur’an maupun melalui hadits – haditsnya. Dan prinsip menampilkan KETELADANAN sebelum MENYERU ini masih tetap berlaku selama langit dan bumi masih ada...
Keteladanan merupakan sarana dakwah dan pendidikan yang paling efektif, sehingga Islam menetapkan sistem pendidikan yang kontiunu atas dasar prinsip keteladanan tersebut.

“ Sesungguhnya orang – orang yang memecah belah agamanya dan mereka ( terpecah ) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. “ ( QS. Al – An’am : 159 ). 
Imam syahid Hasan Al – Banna berkata, “ Sesungguhnya tukang bicara itu berbeda dengan ahli amal dan ahli amal berbeda dengan ahli jihad yang produktif dan bijaksana. Dia memperoleh keuntungan yang gemilang dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya ( jadi inget prinsip ekonomi...). 
Sesungguhnya kebanyakan orang BISA BERBICARA, tetapi sedikit sekali di antara mereka yang mampu bertahan ketika harus BERAMAL. Dari sedikit yang bisa bertahan dari beramal itu, sedikit saja yang mampu memikul beban jihad yang berat di atsa jalan yang terjal ini. Mereka, para mujahid itu adalah orang – orang TERPILIH  yang SEDIKIT JUMLAHNYA. Oleh karena itu, para pendkung dakwah bisa saja tersesat jalan dan tidak sampai pada sasaran yang dituju, kalau dia tidak menyandarkan diri pada pertolongan ALLAH.
Dalam kisah THALUT ada penjelasan terhadap apa yang harus SAYA katakan. Maka persiapkanlah dirimu dan didiklah dengan pendidikan yang benar serta ikhtiar yang mendalam. Ujilah dirimu dengan amalan yang kuat yang seringkali tidak menyenangkan dan sangat berat. Sapilah dirimu dari keinginan – keinginan dan kebiasaan – kebiasaan hidup yang melenakan .“