Minggu, 26 Februari 2012


Siap berubah


Esensi dari dakwah adalah bahwa sesungguhnya dakwah merupakan suatu aktivitas dan upaya untuk mengadakan perubahan terhadap individu  maupun kelompok menjadi lebih baik. Dakwah sendiri memiliki tiga karakteristik dasar yaitu : 1) Thulut Thariq (panjang jalannya) ; 2) Katsirul ‘aqabat (banyak timpaannya) ; 3) Qilatru rijal (sedikit orangnya).

Telaah siapa “kita”?

Dari pada capek mikirin siapa yang pantas menjadi penguasa atau pemimpin, terus gontok-gontokkan antar sesama kita, lebih baik memanfaatkan potensi yang kita miliki guna menghadapi pertarungan yang lebih mengglobal. Kader militan yang siap dan cerdas, jamaah yang kuat dan solid, pemanfaatan seluruh potensi, manajemen kerja yang cerdas dan profesional adalah segenap bahan baku bagi kemenangan dakwah kampus dimasa depan.

Siap berubah..

Perubahan menjadikan kehidupan mengabadi dan menyejarah. Perubahanlah yang menyebabkan kehidupan ini tetap remaja dan awet muda. Sebab perubahan selalu mendewasakan. Perubahan selalu memberikan jalan. Perubahan tidak pernah bosan memberikan jawaban atas segala masalah yang ada dalam kehidupan ini. Seperti aliran sungai yang mengalir, perubahan itu mengalir dengan begitu santun dari hulu yang lebih tinggi. Kadang mengalir dengan tegas dan kuat, kadang lembut dan tenang. Begitu tegar, begitu kokoh. Semangat sang aliran selalu mencerahkan kondisi dan situasi yang dihadapinya. Bentuk fisik(warna, bau, rasa) senantiasa menunjukkan kepribadian sang aliran. Namun, dimuaranya di ujung jalan, sang aliran akan menemukan jalan ke laut lepas. Jalan keabadian dari pilihan perubahan. Ketika mengarungi aliran sungai, maka kita akan menemukan dinamika kehidupan yang ebraneka ragam. Dari sanalah kehidupan itu berkembang. Dari situlah kehidupan itu berjalan dari “Dinamika Perubahan.”

Begitulah cara Allah SWT menjalankan kehidupan ini. Mengadakan perubahan. Perubahan yang akan menjadikan kehidupan semakin baik dari waktu ke waktu. Membuat sebuah jalan agar umat manusia menemukan kebaikan dan kesempurnaan. Perubahan selalu membawa kepada kebaikan. Dan di ujung perubahan selalu mincul penyempurnaan. Menjadi lebih baik.

Selalu berusaha menjadi yang terbaik sang melankolis yang perfeksionist...

Sejarah merupakan kisah pembaharuan atau perubahan. Perubahan merupakan jalan penuntas mimpi. Setiap pelaku sejarah yang tersejarahkan adalah juga pelaku perubahan “agent of change.” Sang penuntas mimpi adalah ‘sejarah yang tersejarahkan’. Sebetulnya keabadian sejarah kehidupan, ataupun momentum kesejarahan (petikan kisah) hakikatnya adalah keabadian jiwa-jiwa. Jiwa-jiwa yang bermain dalam lakon sejarah itu. Jiwa – jiwa yang berpentas dalam momentum kesejarahan itu. Mereka itulah sebetulnya sejarah yang sebenarnya. Tanpa mereka, sejarah tidak akan menjadi sejarah.

Sang penuntas mimpi adalah orang-orang istimewa. Mereka tidak sama dengan kebanyakan orang. Ada yang membuatnya berbeda. Membuatnya lain dari yang lain. Kadang jika kita melihat manusia lain tertidur lelap dalam kegelapan malam, kita temukan mereka terbangun karena pikirannya yang kalut memikirkan nasib umat, nasibnya dan pertanggungjwabannya kelak di hadapan Sang Kuasa. Kadang kita akan menemukan mereka dalam keheningan ditengah hiruk pikuk kehidupan yang melenakan. Atau sebaliknya menemukan mereka dalam keramaian, megajarkan kebaikan di tengah keheningan dan kebekuan. Maka, kita akan menemukan model – model kehidupan seperti Umar bin Khattab r.a., yang setiap malam meronda guna mengecek kondisi masyarakatnya. Atau kehidupan seperti Abdullah bin Abbas r.a yang menghabiskan siang dan malamnya dalam tarbiyah dan dakwah. Atau pilihan Abu Dzar Al Ghifari r.a yang menyendiri guna mempertahankan idealismenya.

Begituah sang penuntas mimpi hidup dalam optimisme dan keyakinannya. Disaat orang lain berpikir pesimis dan beranggapan tidak mungkin.. Para penuntas mimpi tidak pernah kehilangan keyakinan bahwa akan selalu ada jalan dibalik kebuntuan. Maka selalu mampu menembus dimensi ketidakmungkinan untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan yang banyak. Inilah mungkin yang menyebabkan para penuntas mimpi selalu saja menjadi rujukan menuju keberhasilan, sebab di dalam diri mereka kita akan selalumenemukan potensi-potensi menjajikan untuk memenangkan kehidupan. Jika orang lain membutuhkan satu jaln kemenangan, mereka tidak pernah memperhatikan seperti apa jalan kemenangan itu, sebab mereka memiliki ribuan jalan kemenangan.
“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’du : 11)

Ayat ini dapat disimpulkan bahwa sebuah perubahan pembaruan(perubahan) tidak akan pernah tercapai manakala kita belum berhasil melakukan perbaikan pada internal diri.
Dalam proyek pembaruan internal diri dibutuhkan 4 bentuk kekuatan jiwa yang pernah disamapikan Imam Syahid bahwa,”umat atau kelompok yang ingin membina diri, mewujudkan cita dan membela prinsip – prinsip yang diyakininya membutuhkan kekuatan jiwa yang terekspresikan dalam beberapa hal, yaitu :
1. Tekad yang membaja yang tidak akan pernah melemah
2. Kesetiaan yang teguh, yang tidak disusupi oleh kemunafikan dan pengkhianatan
3. Pengorbanan besar yang tidak terhalangi oleh ketamakan dan kebakhilan
4. Mengenali, mengimani, dan menghargai prinsipyang dapat meghargai prinsip yang dapat menghindarkan diri dari kesalahan, penyimpangan, sikap tawar-menawar dalam masalah prinsipil, dan tertipu dengan prinsip lain.”

Jumat, 03 Februari 2012

Sudahkah kau dekat dengan Al-Qur’an???

Wahai jiwaku,tidakkah kamu malu kepada Allah SWT? Dengan nikmat-Nya yang sedemikian banyak,yang diminta maupun tidak, tidaklah kamu bersyukur kepada-Nya? Mendekatkan diri pada - Nya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an?
Wahai jiwaku, sadarkah kamu ketika Allah SWT dan Rasul-Nya mengajak dirimu memperbanyak hidup bersama Al-Qur’an? Untuk siapakah manfaat amal tersebut? Apakah kamu mengira bahwa dengan banyak membaca Al-Qur’an maka kemuliaan Allah dan Rasul-Nya menjadi bertambah? Dan sebaliknya, jika kamu tidak mebaca Al-Qur’an kemuliaan itu berkurang? Sekali-kali tidak..Semua yang kita baca da kita lakukan, kitalah yang paling banyak mendapatkan manfaatnya.
Wahai jiwa tidakkah kamu mersasa khawatir dengan dirimu? Selama inin hidup tanpa Al-Qur’an, jatah usia makin sedikit, jaminan masuk surga tidak ada di tangan. Sampai saat ini belum mampu tilawah rutin 1 juz per hari, Jangan-jangan Al-Qur’anlah yang tidak mau bersama dirimu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al-Qur’an selalu menjauh dari dirimu.
Wahai jiwa, tidakkah engkau tergiur untu mengikuti kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat serta tabiin yang menjadi kenangan sejarah sepanjang zaman dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an? Jika hari ini kamu masih enggan berinteraksi dengan Al-Qur’an, apa yang akan dikenal oleh generasi yang akan datang tentang dirimu?
Ungkapan diatas adalah untuk perenungan terhadap diri sendiri dalam urusan dunia dan akhirat, agar hidup kita tidak berlalu begitu saja tanpa makna,,,

Kamis, 19 Januari 2012

Kenapa Harus Menjadi Murabbi??

Bismillah
Mungkin akan terlintas dibenak kita, mengapa haru menjadi Murabbi/ah?
Mungkin hal - hal dibawah ini bisa sedikit membuat kita merasa PD untuk menjadi Murabbi/ah...
lets chekidot..
1. untuk memotivasi internal diri..Kenapa? karena jika kita sudah menjadi murabbi/ah, kita akan menjadi contoh untuk mentee - mentee kita sehingga kita akan termotivasi untuk menjadi lebih baik..Masa kita ngajarin orang tapi kita sendiri ga ngelaksanain...
2. Untuk meng up grade kafaah...Pastinya sebelum ngisi kita harus punya materi atau setidaknya bahan yang akan kita sampaikan atau diskusikan,oleh karena itu, pastinya kita akan searching dulu sebeleum ngisi... Jadi nambah ilmu dan wawasan kita juga kan...
3. Wujud pada komitmen jama'ah
4. Amal Jariyah,,Masih inget kan 3 perkara yang amalnya tiada terputus??
Yupzz,,Doa anak yang sholeh, amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat...Dengan kita mengisi mentoring atau halaqoh, insyaAllah ilmu kita yang bermanfaat akan tersampaikan terus..Selain itu kita juga dapat beramal jariah dengannya..
5. Hidayah yang LUAR BIASA.. Hidayah itu hanyalah milik ALLAH SWT, maka itu besyukurlah wahai antu/na yang mendapatkan hidayah untuk dapat menjadi seorang murabbi... Hidayah itu tak gratis, butuh usaha yang luar biasa untuk mendapatkannya dimana doa dan usaha saling menguatkan satu sama lain.
6. Organisir kekuatan umat. Dengan menjadi murabbi, antum akan lebih mudah mengajak binaan antum untuk mengajak kepada suatu kebenaran. Ketika ada suatu  instruksi kebaikan, maka akan lebih mudah mengajak lewat kelompok mentoring atau halaqoh, karena pendekatan personal lebih berasa, lebih kuat..
7. Taqwin (pembentukan) dengan menjadi murabbi, antum akan dapa tmewujudkan misi antu/na untuk mencetak para qiyadah dakwah, qiyadah ummah, dan qiyadah daulah..

# Dimensi mentoring:
a. membentuk karakter Islami (misalkan dengan materi ms'rifatullah, dll)
b. Kemampuan berorgansisasi
c. Akademik

# Output kader tarbiyah
1. Saksiyah Islamiyah ( Pribadi yang Islami)
2. Saksiyah Daiyah (Kepribadian dai )
3. Murabbi Muntijah (murabbi sukses)

Wallahualam bissowwab

Jumat, 13 Januari 2012

Uswatun Hasanah

بسم الله رحمن رحیم

ا سوة حسنه

_USWATUN HASANAH_
....SURI TELADAN YANG BAIK....


Nama merupakan sebuah doa dari sang pemberi nama (orang tua),,,
Semoga diri ini dapat menjadi apa yang sang pemberi nama dambakan..
Amiinn..

"Sesungguhnya keteladanan yang baik itu merupakan dakwah amaliyah
dan bukan dakwah lisan saja..
keteladanan berarti dakwah dengan perilaku (bil hal)
sebelum dakwah dengan perkataan (bil maqal)..."

Betapapun tingginya prinsip dan arahan, tetapi jika tanpa ada bukti pelaksanaannya, maka tidak akan pnya pengaruh
dan tidak membawa manfaat bagi pemiliknya...
Adanya seakan tak ada...