Siap berubah
Esensi dari dakwah adalah bahwa sesungguhnya dakwah merupakan suatu aktivitas dan upaya untuk mengadakan perubahan terhadap individu maupun kelompok menjadi lebih baik. Dakwah sendiri memiliki tiga karakteristik dasar yaitu : 1) Thulut Thariq (panjang jalannya) ; 2) Katsirul ‘aqabat (banyak timpaannya) ; 3) Qilatru rijal (sedikit orangnya).
Telaah siapa “kita”?
Dari pada capek mikirin siapa yang pantas menjadi penguasa atau pemimpin, terus gontok-gontokkan antar sesama kita, lebih baik memanfaatkan potensi yang kita miliki guna menghadapi pertarungan yang lebih mengglobal. Kader militan yang siap dan cerdas, jamaah yang kuat dan solid, pemanfaatan seluruh potensi, manajemen kerja yang cerdas dan profesional adalah segenap bahan baku bagi kemenangan dakwah kampus dimasa depan.
Siap berubah..
Perubahan menjadikan kehidupan mengabadi dan menyejarah. Perubahanlah yang menyebabkan kehidupan ini tetap remaja dan awet muda. Sebab perubahan selalu mendewasakan. Perubahan selalu memberikan jalan. Perubahan tidak pernah bosan memberikan jawaban atas segala masalah yang ada dalam kehidupan ini. Seperti aliran sungai yang mengalir, perubahan itu mengalir dengan begitu santun dari hulu yang lebih tinggi. Kadang mengalir dengan tegas dan kuat, kadang lembut dan tenang. Begitu tegar, begitu kokoh. Semangat sang aliran selalu mencerahkan kondisi dan situasi yang dihadapinya. Bentuk fisik(warna, bau, rasa) senantiasa menunjukkan kepribadian sang aliran. Namun, dimuaranya di ujung jalan, sang aliran akan menemukan jalan ke laut lepas. Jalan keabadian dari pilihan perubahan. Ketika mengarungi aliran sungai, maka kita akan menemukan dinamika kehidupan yang ebraneka ragam. Dari sanalah kehidupan itu berkembang. Dari situlah kehidupan itu berjalan dari “Dinamika Perubahan.”
Begitulah cara Allah SWT menjalankan kehidupan ini. Mengadakan perubahan. Perubahan yang akan menjadikan kehidupan semakin baik dari waktu ke waktu. Membuat sebuah jalan agar umat manusia menemukan kebaikan dan kesempurnaan. Perubahan selalu membawa kepada kebaikan. Dan di ujung perubahan selalu mincul penyempurnaan. Menjadi lebih baik.
Selalu berusaha menjadi yang terbaik sang melankolis yang perfeksionist...
Sejarah merupakan kisah pembaharuan atau perubahan. Perubahan merupakan jalan penuntas mimpi. Setiap pelaku sejarah yang tersejarahkan adalah juga pelaku perubahan “agent of change.” Sang penuntas mimpi adalah ‘sejarah yang tersejarahkan’. Sebetulnya keabadian sejarah kehidupan, ataupun momentum kesejarahan (petikan kisah) hakikatnya adalah keabadian jiwa-jiwa. Jiwa-jiwa yang bermain dalam lakon sejarah itu. Jiwa – jiwa yang berpentas dalam momentum kesejarahan itu. Mereka itulah sebetulnya sejarah yang sebenarnya. Tanpa mereka, sejarah tidak akan menjadi sejarah.
Sang penuntas mimpi adalah orang-orang istimewa. Mereka tidak sama dengan kebanyakan orang. Ada yang membuatnya berbeda. Membuatnya lain dari yang lain. Kadang jika kita melihat manusia lain tertidur lelap dalam kegelapan malam, kita temukan mereka terbangun karena pikirannya yang kalut memikirkan nasib umat, nasibnya dan pertanggungjwabannya kelak di hadapan Sang Kuasa. Kadang kita akan menemukan mereka dalam keheningan ditengah hiruk pikuk kehidupan yang melenakan. Atau sebaliknya menemukan mereka dalam keramaian, megajarkan kebaikan di tengah keheningan dan kebekuan. Maka, kita akan menemukan model – model kehidupan seperti Umar bin Khattab r.a., yang setiap malam meronda guna mengecek kondisi masyarakatnya. Atau kehidupan seperti Abdullah bin Abbas r.a yang menghabiskan siang dan malamnya dalam tarbiyah dan dakwah. Atau pilihan Abu Dzar Al Ghifari r.a yang menyendiri guna mempertahankan idealismenya.
Begituah sang penuntas mimpi hidup dalam optimisme dan keyakinannya. Disaat orang lain berpikir pesimis dan beranggapan tidak mungkin.. Para penuntas mimpi tidak pernah kehilangan keyakinan bahwa akan selalu ada jalan dibalik kebuntuan. Maka selalu mampu menembus dimensi ketidakmungkinan untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan yang banyak. Inilah mungkin yang menyebabkan para penuntas mimpi selalu saja menjadi rujukan menuju keberhasilan, sebab di dalam diri mereka kita akan selalumenemukan potensi-potensi menjajikan untuk memenangkan kehidupan. Jika orang lain membutuhkan satu jaln kemenangan, mereka tidak pernah memperhatikan seperti apa jalan kemenangan itu, sebab mereka memiliki ribuan jalan kemenangan.
“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’du : 11)
Ayat ini dapat disimpulkan bahwa sebuah perubahan pembaruan(perubahan) tidak akan pernah tercapai manakala kita belum berhasil melakukan perbaikan pada internal diri.
Dalam proyek pembaruan internal diri dibutuhkan 4 bentuk kekuatan jiwa yang pernah disamapikan Imam Syahid bahwa,”umat atau kelompok yang ingin membina diri, mewujudkan cita dan membela prinsip – prinsip yang diyakininya membutuhkan kekuatan jiwa yang terekspresikan dalam beberapa hal, yaitu :
1. Tekad yang membaja yang tidak akan pernah melemah
2. Kesetiaan yang teguh, yang tidak disusupi oleh kemunafikan dan pengkhianatan
3. Pengorbanan besar yang tidak terhalangi oleh ketamakan dan kebakhilan
4. Mengenali, mengimani, dan menghargai prinsipyang dapat meghargai prinsip yang dapat menghindarkan diri dari kesalahan, penyimpangan, sikap tawar-menawar dalam masalah prinsipil, dan tertipu dengan prinsip lain.”